Be yourself; Everyone else is already taken.
— Oscar Wilde.
This is the first post on my new blog. I’m just getting this new blog going, so stay tuned for more. Subscribe below to get notified when I post new updates.
Be yourself; Everyone else is already taken.
— Oscar Wilde.
This is the first post on my new blog. I’m just getting this new blog going, so stay tuned for more. Subscribe below to get notified when I post new updates.
Bali identik dengan pantai. Pasirnya yang putih, air yang jernih serta penduduknya yang ramah menjadi daya tarik utama Pulau Dewata ini. Hanya saja Bali kini sudah ‘semakin besar’ dalam hal wisata.
Bali tak lagi hanya mengandalkan wisata pantainya yang indah. Head of Tourism Marketing Division Dinas Pariwisata Bali, Bali punya segudang inovasi dan strategi untuk menggaet turis.
Bali kini juga sedang mengembangkan sport tourism. Namun sport atau olahraga yang dimaksud adalah olahraga tradisional. Mepantinganatau gulat lumpur adalah salah satu wisata olahraga yang ingin dipopulerkan ke kalangan wisawatan. Berbagai inovasi dunia wisata Bali ini dilakukan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Indonesia. Tak dimungkiri, Bali memang punya daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing. Kondisi ini memang akan menambah nilai kunjungan wisata nasional. Selain untuk tetap mempertahankan popularitasnya sebagai lokasi populer di Indonesia, strategi dan inovasi Bali ini juga digunakan untuk memperkenalkan kota lain di Indonesia. Bali adalah bagian tak terpisahkan dari pariwisata Indonesia. Diibaratkan, Bali bisa menjadi pintu gerbang untuk pariwisata Indonesia.
Pariwisata merupakan industri yang menjajikan untuk Indonesia sebagai salah satu destinasi unggulan pariwisata internasional. Pada Maret lalu, Indonesia diwakili oleh Bali masuk ke dalam sepuluh besar destinasi wisata terbaik dunia menurut TripAdvisor. Untuk terus mendukung keunggulan pariwisata nasional, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengajak milenial terlibat dalam Tourism 4.0.
Perkembangan pariwisata dunia diliputi fenomena yang dramatis dari sisi internal dan eksternal. “Kita melihat bagaimana alam-budaya-seni sebagai keunggulan destinasi saat ini dihadapkan pada ancaman degradasi dalam berbagai hal seperti kualitas sumber daya alam, perubahan gaya hidup masyarakat serta pengaruh digitalisasi di bidang informasi dan teknologi. Ini perlu disikapi dengan cara pandang yang holistik dan visioner bahwa industri ini perlu penyelamatan yang nyata dan konsistenDalam kegiatan 2 hari itu, dilaksanakan sejumlah seminar dengan topik yang strategis untuk berbagai divisi pada industri pariwisata dan perhotelan. Yoga Iswara menambahkan bahwa tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Bali dan Indonesia bukan hanya terkenal sebagai destinasi wisata namun juga dikenal sebagai pencetak dan penyedia sumber daya manusia (SDM) kepariwisataan yang handal dan berstandar global.Menurut ketua penyelenggara kegiatan, I Made Ramia Adnyana, SE,.MM.,CHA, di 2019 ini Annual Hotelier Summit Indonesia 2019 dilaksanakan di Bali sebagai embrio agenda tahunan. Ke depannya akan dilaksanakan secara bergilir di berbagai kota besar di Indonesia untuk pemerataan dan menjadi gerakan nasional akan pentingnya pemahaman industri pariwisata sebagai bentuk perekonomian yang berbasis kerakyatan. “Kami sajikan 9 seminar dalam 2 hari ini dengan menghadirkan 18 narasumber yang ahli di bidangnya. Peserta sudah mencapai 618 orang dalam keseluruhan acara tersebut, dan kami optimis event ini akan bisa berlanjut terus kedepannya karena manfaat bagi industri dan insan pariwisata sangat besar,” sebutnya.
Ini, lanjutnya, merupakan event pertama di Indonesia yang melibatkan bukan hanya 1 profesi bidang keahlian namun berbagai bidang. Termasuk di bagian hulu dari pembangunan SDM kita yaitu bidang pendidikan dan pelatihan vokasi kepariwisataan.Ia menjelaskan dewasa ini perkembangan pariwisata dunia diliputi fenomena yang dramatis dari sisi internal dan eksternal. “Kita melihat bagaimana alam-budaya-seni sebagai keunggulan destinasi saat ini dihadapkan pada ancaman degradasi dalam berbagai hal seperti kualitas sumber daya alam, perubahan gaya hidup masyarakat serta pengaruh digitalisasi di bidang informasi dan teknologi. Ini perlu disikapi dengan cara pandang yang holistik dan visioner bahwa industri ini perlu penyelamatan yang nyata dan konsisten,” ungkapnya.
Dalam kegiatan 2 hari itu, dilaksanakan sejumlah seminar dengan topik yang strategis untuk berbagai divisi pada industri pariwisata dan perhotelan. Yoga Iswara menambahkan bahwa tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Bali dan Indonesia bukan hanya terkenal sebagai destinasi wisata namun juga dikenal sebagai pencetak dan penyedia sumber daya manusia (SDM) kepariwisataan yang handal dan berstandar global.Jadi Bali siap untuk bersaing di dunia global 


u
Saya ingin memilih menjadi wirausahawan muda, berikut beberapa alasan saya:
Rencana Yang Matang
Apabila modal yang cukup tidak diiringi oleh rencana yang matang, maka kemungkinan besar usaha atau bisnis yang kita lakukan akan cepat gulung tikar. Karena dengan rencana yang matang inilah kita akan mengetahui dengan jelas jenis bisnis apa yang akan kita geluti, seperti apakah keadaan pasar, bagaimana persaingan di dalamnya, siapakah yang akan menjadi target kita, bagaimanakah susunan kepengurusan perusahaan yang professional, dan lain-lain. Rencana juga akan sangat membantu kita untuk mencetuskan solusi dari berbagai permasalahan yang datang. Sekali lagi, memulai bisnis itu tidak perlu terburu-buru, tetapi harus ditargetkan dan direncanakan dengan sangat matang, agar hasilnya pun akan manis.
Haus Akan Pengalaman Dan Tantangan
Calon pengusaha yang kuat adalah orang-orang yang selalu haus akan pengalaman dan tantangan. Mereka akan terus mencari cara agar bisnis atau usaha yang mereka ingin lakukan dapat tercapai dengan baik. Oleh karena itu, apabila memang kita ingin menjadi pengusaha atau pebisnis, maka kita tidak boleh takut gagal atau rugi, karena hal-hal tersebut adalah risiko dari memulai bisnis. Namun, kita juga tidak boleh asal-asalan dan ceroboh, alih-alih berani ambil banyak risiko dan tantangan, malah justru usaha yang kita cita-citakan berantakan di tengah jalan akibat bangkrut.
Dapat Mengatur Dan Mengembangkan Diri
Masih banyak dari kita yang belum bisa mengatur diri sendiri, tetapi justru inilah hal bagus yang akan membuat kita terus-menerus berusaha untuk selalu mengatur kehidupan dan mengembangkan diri. Dengan berencana untuk menjadi pengusaha, maka kita juga sudah siap untuk menghadapi permasalahan-permasalahan yang akan datang serta bertanggung jawab akan usaha kita. Memang salah satu kelebihan sebagian pebisnis adalah memiliki waktu yang fleksibel, tetapi bukan berarti kita tidak memiliki jadwal yang teratur dan membiarkan semuanya berantakan. Dengan memiliki sifat yang teratur dan suka terus-menerus mengembangkan diri, maka kita dapat menjadi pengusaha yang baik dan sukses.
Memiliki Visi Kehidupan Karir Sendiri
Setiap orang tentu memiliki visi di dalam hidupnya, termasuk juga diri kita. Mungkin saat ini kita sedang bekerja di sebuah perusahaan yang mana hal tersbut bukanlah cita-cita kita atau misi yang ingin kita wujudkan. Oleh karena itu, sebagai pengusaha kita perlu memiliki visi yang tepat dan jelas untuk kehidupan karir di masa yang akan datang. Mungkin selama ini masih banyak dari kita yang sudah berkeinginnan untuk menjadi penguasaha namun terlalu sibuk dengan pekerjaan kantor sehingga terus-menerus menunda keinginan tersebut. Dengan memiliki kemauan dan semangat yang kuat, maka kita mampu mewujudkan dan berusaha agar visi kita untuk menjadi seorang pengusaha dapat terwujudkan.
Bertemu Teman-Teman Sejalan
Ini adalah salah satu hal yang akan semakin memperkuat keinginan kita untuk menjadi seorang pengusaha atau pebisnis. Dengan bertemu orang-orang yang memang juga ingin membangun bisnis bersama, apalagi kalau sudah memiliki banyak pengalaman, maka keragu-raguan di dalam diri kita akan semakin berkurang dan justru rasa percaya diri kita akan kesuksesan bisnis akan meningkat. Bertemu dengan teman-teman yang sejalan memang akan semakin melengkapi bisnis yang akan kita bangun, karena pada dasaranya setiap orang memiliki kelebihan di bidangnya masing-masing, sehingga kita dapat dengan mudah membangun sebuah team yang kuat dan kompak.
Memiliki Visi Kehidupan Karir Sendiri
Setiap orang tentu memiliki visi di dalam hidupnya, termasuk juga diri kita. Mungkin saat ini kita sedang bekerja di sebuah perusahaan yang mana hal tersbut bukanlah cita-cita kita atau misi yang ingin kita wujudkan. Oleh karena itu, sebagai pengusaha kita perlu memiliki visi yang tepat dan jelas untuk kehidupan karir di masa yang akan datang. Mungkin selama ini masih banyak dari kita yang sudah berkeinginnan untuk menjadi penguasaha namun terlalu sibuk dengan pekerjaan kantor sehingga terus-menerus menunda keinginan tersebut. Dengan memiliki kemauan dan semangat yang kuat, maka kita mampu mewujudkan dan berusaha agar visi kita untuk menjadi seorang pengusaha dapat terwujudkan.
Pada tahun 2018 telah usai dengan segala harapan dan cita-cita yang harus terus diperjuangkan. Hari baru di 2019 menyiratkan semangat untuk mewujudnyatakan harapan dan cita-cita yang belum usai di 2018. Secara umum dalam pembangunan dan pengembangan yang ada dalam kabupaten tercinta, kabupaten Humbang Hasundutan, Khususnya dalam pengembangan potensi pariwisata yang ada terlebih didalam masa revolusi industri 4.0 yang sudah mulai kita jajaki.

Salah satu sejarah terbesar di dunia adalah dengan adanya Revolusi Industri. Tak dapat dipungkiri bahwa kehidupan kita tidak bisa lepas dari benda dan alat yang kita gunakan untuk mempermudah aktivitas dan pekerjaan setiap manusia, dimana hal tersebut adalah hasil dari revolusi industri.Kilas revolusi industri dimulai pada tahun 1784 dengan ditemukannya mesin uap dan alat-alat mekanisasi
Revolusi Industri yang kedua terjadi pada abad ke-19 ditemukan produksi dengan bantuan listrik. Revolusi Industri yang ketiga ditandai dengan hadirnya penggunaan teknologi komputer untuk otomasi manuktuktur pada tahun 1970. Dan saat ini kita (Indonesia) menjajaki masa revolusi indutri 4.0 ditandai dengan ekspansi teknologi melalui kecanggihan digital dan internet yang sudah kita rasakan sampai hari ini, misalnya Traveloka, Go-Jek, Grab, Online Shop dan lain-lain yang telah memudahkan masyarakat.

Revolusi Industri sudah menjadi tuntutan sesuai kebutuhan zaman yang tidak bisa dihindarkan. Kita harus siap menghadapi Revolusi Industri 4.0 dengan berfikir kritis, kreatif, komukasi, dan bekerjasama. Dengan harapan juga akan melahirkan generasi yang kompetitif dan berdaya saing tinggi.Dalam mendorong pengembangan pariwisata, pada tahun 2018 Arief Yahya selaku menteri Pariwisata menekankan pentingnya perkembangan teknologi dalam mendorong sektor pariwisata di Indonesia.
Oleh karenanya Kementeriannya mendorong Pariwisata 4.0 agar membawa hasil signifikan pada sektor pariwisata Indonesia. Peringatan Hari Pariwisata Dunia (Word Tourism Day) sudah diperingati pada 28 september 2018 yang lalu dengan membawa tema “Tourism and The Digital Transformation” atau sebagai Tahun Pariwisata dan Transformasi Digital.

Namun dalam penerapan menuju Pariwisata 4.0 dibutuhkan unsur lain, salah satunya adalah Generasi milenial yang sudah berkompeten dalam industri revolusi 4.0. Generasi Milenial adalah generasi yang berusia antara 22 tahun sampai 37 tahun dengan rata-rata kelahiran antara tahun 1981 hingga tahun 1996.

Pun melihat generasi milenial yang lebih suka menghabiskan waktu dan materi untuk piknik. Ini tentu akan sangat baik ketika pemanfaatan internet dengan suka piknik dikolaborasikan dengan pengenalan tempat piknik kedalam dunia digital. Dan dua hal ini dimiliki oleh generasi milenial.Pemanfaatan media dan hubungan masyarakat dengan Internet adalah pilihan yang tepat dan praktis untuk promosi potensi wisata yang ada di kabupaten Humbang Hasundutan sembari kita berharap pembangunan infrastruktur terus diupayakan oleh pemerintah selaku pemangku kebijakan.

Salah satunya dengan memulai menulis dan menceritakan tentang kultur, kekayaan, dan potensi-potensi wisata di humbahas di blog, web atau minimal didalam media sosialnya.Tentu ini akan sangat baik untuk mempromosikan humbang-hasundutan sendiri kedalam dunia digital.
Kita pun belajar dari daerah-daerah yang sudah menjadi destinasi di Indonesia, misalnya Bali, Jogja, Solo dan daerah lainnya merupakan bukan sesuatu yang sulit ketika kita akan mencari tempat wisata, akomodasi, kuliner di daerah tersebut. Google telah menyediakannya karena banyak blog dan website yang menceritakan tentang daerah tersebut.
Ketiga Pemerintah daerah bersinergis dengan milenial dengan membuat program yang menarik minat milenial untuk ikut berpatisipasi aktif dalam mengembangkan pariwisata.
Salah satunya dengan membuat lomba mengenai pariwisata humbahas, misalnya lomba menulis blog dan membuat vlog yang diperuntukkan untuk umum atau milenial yang berasal dari humbahas yang sedang menuntut ilmu atau bekerja diluar humbahas.
Ini tentu hal sederhana namun sangat baik dalam hal promosi dibandingkan dengan membuat even yang memakan banyak dana dan hasilnya tidak maksimal.
Terakhir pemerintah daerah sebisa mungkin memaksimalkan potensi akademisi dan profesional kalangan milenial dengan menghasilkan inovasi baru juga memaksimalkan teknologi jangka panjang dan memastikan inovasi tepat sasaran dan tidak berakibat negatif bagi pembangunan berkelanjutan dan masyarakat lokal sekitar.
Salah satunya mungkin pembuatan aplikasi yang bisa digunakan untuk mempermudah tentang pariwisata humbang hasundutan.
Akhirnya, pembangunan dan pengembangan potensi pariwisata yang berada di humbang hasundutan kita harapkan akan semakin maju salah satunya dengan Industri Revolusi 4.0 dengan sinergitas antara milenial dan pemerintah yang harus dimulai dan terus dikembangkan demi perwujutan menuju pariwisata Humbahas Hebat.
Pariwisata sampai saat ini juga masih masuk ke dalam sektor prioritas pembangunan Indonesia tahun 2018, bersama dengan sektor pangan, energi, maritim, dan kawasan industrI ekonomi khusus. Pariwisata di Indonesia tahun 2017 juga telah mampu mendorong tumbuhnya sektor lain, seperti industri kecil di pedesaan, agro wisata, industri kreatif seni budaya, dan kuliner.
Pemerintahan Presiden Joko Widodo juga telah menggencarkan pembangunan infrastruktur menuju destinasi prioritas. Hal itu tentu saja akan menggairahkan investasi di sektor pariwisata. Meski demikian, pembangunan infrastuktur mestinya tidak hanya dilakukan pada 10 destinasi prioritas yang sudah ditetapkan. Pemerintah perlu menambah destinasi prioritas di beberapa daerah, sehingga iklim investasi juga dirasakan oleh berbagai daerah. Keterbatasan aksesibilitas menuju destinasi seringkali menjadi kendala bagi pengembangan pariwisata di daerah.

Episode mimpi buruk pariwisata di Indonesia terjadi ketika Bom Bali 12 Oktober 2002. Pady’s Café dan Sari Club di Legian luluh lantah dibom oleh tiga pelaku teror Imam Samudra, Amrozy, dan Ali Gufron. Korban tewas 202 orang, 300 luka-luka dan 88 orang korban yang meninggal adalah warga negara Australia. Pariwisata Indonesia saat itu terasa tumbang. Beberapa pengusaha pariwisata jatuh bangkrut akibat travel warning yang dikeluarkan oleh beberapa negara. Kunjungan wisatawan asing dan domestik menurun drastis. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal terjadi di industri pariwisata dan dunia usaha lain yang menopang pariwisata.
Belum lagi pariwisata Indonesia pulih, Bali kembali diguncang bom. Raja’s Café dan Menega Café di Jimbaran dibom pada tanggal 1 Oktober 2005. Pelakunya Misno dan Zalid Firdaus tewas dalam bom bunuh diri itu. Namun yang lebih memprihatinkan, 23 orang pengunjung café meninggal dan 129 orang luka. Pariwisata Indonesia kembali diuji oleh mimpi buruk. Dua peristiwa tersebut menggambarkan peneguhan, betapa tourism dan terrorism menjadi dua hal yang berbeda namun sangat berdekatan.

Mimpi buruk pariwisata Indonesia dilengkapi dengan erupsi Gunung Agung di Karangasem, Bali sejak Oktober hingga Desember 2017. Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan erupsi tersebut menimbulkan kerugian bagi sektor pariwisata Indonesia. Kerugian ditaksir mencapai 250 milyar rupiah per hari atau jika ditotal mencapai 9 triliun rupiah. Padahal periode tersebut adalah peak season bagi kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara.
Berbicara pariwisata tentu tak lepas dari partisipasi terkhusus dalam pengembangan pariwisata di Bali. Partisipasi menjadi titik mula dalam pengembangan wisata berbasis masyarakat. Dengan partisipasi dari semua pihak khususnya masyarakat, iklim wisata akan terbangun. Ketika semua orang turut mendukung, maka para wisatawan akan merasa nyaman berdiam di sebuah objek wisata.

Terdapat pemikiran yang kurang tepat berkembang, jika mengembangkan objek wisata difokuskan pada bagaimana membangun destinasi. Destinasi memang penting, tapi bukan yang pertama yang perlu dipikirkan. Komunitas atau masyarakat adalah aspek pertama yang harus “ditata” terlebih dahulu. Keterlibatan semua orang untuk menjadikan lingkungannya sebagai lokasi yang nyaman bagi para wisatawan adalah hal pokok yang harus dituntaskan terlebih dahulu.
Selain partisipasi, prinsip yang harus dijaga dalam pengembangan wisata adalah menjaga kebudayaan. Tiga pilar pembangunan berkelanjutan menjadi acuan dalam hal ini. Wisata tidak boleh hanya mengedepankan tujuan ekonomi tapi juga keberlanjutan sosial budaya dan lingkungan. Inti wisata berbasis masyarakat bukan soal bagus atau tidaknya destinasi. Perubahan pola pikir masyarakat adalah hal yang lebih utama. Misalnya dalam sebuah desa wisata yang sedang digalakkan di seluruh wilayah Bali, satu penduduk dengan penduduk lain harus memiliki keramahan yang sama. Ketika disambut dengan keramahan semua penduduk desa, secara otomatis wisatawan akan merasa senang dan akan kembali datang ke desa tersebut. Karenanya partisipasi masyarakat dan keramahan mereka inilah yang akan menjadi faktor keberlanjutan wisata berbasis masyarakat.

Ada 3 (tiga) program prioritas di Tahun 2018 untuk mewujudkan 20 Juta Wisman di Tahun 2019, Digital Tourism (E-Tourism), Homestay Desa Wisata dan Konektivitas Udara (Air Accesibility). Ketiganya menjadi prioritas mengikuti trend industri dunia saat ini dimana sudah tidak lagi owned economy tapi sharing economy, dengan didukung oleh semangat Indonesia Incorporated maka target Presiden Joko Widodo tersebut dapat terwujud. Saat ini Era dunia telah berubah, perusahaan Digital merajai ekonomi dunia dengan konsep sharing economy-nya. Pariwisata Indonesia juga harus beradaptasi dan bertransformasi dengan era baru tersebut, maka lahirlah program kebijakan Digital Tourism.

Begitu besarnya pengguna internet saat ini yang difasilitasi oleh Smartphone sehingga melahirkan sebuah Generasi Milenial. Sebuah generasi yang 80% eksis di dunia maya, media sosial dan media digital. Kementerian Pariwisata menangkap peluang ini dengan melahirkan sebuah komunitas netizen zaman now yang tertarik dengan pariwisata dan 80% bergerak di sosial media, yaitu GenPI (Generasi Pesona Indonesia) dan GenWI (Generasi Wonderful Indonesia) yang sangat disambut baik oleh Menteri Pariwisata. Dimana GenPI/GenWI adalah generasi milenial dengan basis komunitas yang aktif mempromosikan Pariwisata Indonesia baik melalui blog, vlog atau medsos kepada masyarakat luas. Mereka sangat aktif dan rutin menggunakan jari mereka untuk pariwisata Indonesia. Passion mereka memang di pariwisata, untuk itu setiap hari mempromosikan tema-tema pariwisata di Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, WeChat, Weibo, Line, Path, dan platform medsos lainnya.
This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.
You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.
Why do this?
The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.
To help you get started, here are a few questions:
You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.
Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.
When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.